Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Sekretaris PKC PMII Sumut Desak Pertamina Bertindak 'Ekstra' Tangani Kelangkaan BBM, Minta GM Freddy Anwar Mundur


 MEDAN,- 

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Sumatera Utara (Sumut) pasca-bencana banjir dan cuaca ekstrem menuai sorotan tajam dari aktivis mahasiswa. 


Sekretaris Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumatera Utara Dedi Arisandi Ritonga mendesak keras PT. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut untuk segera menormalkan pasokan, bahkan menuntut agar pimpinan di wilayah tersebut mundur karena dianggap gagal.Sabtu.(29/11)


​Dedi Arisandi Ritonga, dalam keterangannya hari ini, menyatakan kekecewaannya atas lambatnya upaya pemulihan distribusi, padahal kondisi cuaca diklaim sudah mulai membaik sejak Jumat, 28 November 2025.


​"Kami meminta PT. Pertamina Sumbagut untuk tidak hanya tinggal diam. Kondisi lapangan sangat sulit, masyarakat mengantre panjang bahkan banyak SPBU yang kosong," tegas Dedi Ritonga.


​Kritik Lambannya Respons dan Tuntutan Mundur ​Dedi Ritonga menilai alasan cuaca ekstrem yang sempat menghambat proses sandar kapal tanker di Belawan dan gangguan jalur darat seharusnya sudah bisa diatasi dengan skema kontingensi yang lebih baik.


​"Cuaca hari ini sudah membaik, seharusnya hal ini (kelangkaan) tidak terjadi apabila PT. Pertamina gerak cepat. Kami melihat ada kesan bahwa Pertamina tidak mau ekstra kerja untuk Sumatera Utara," ujar Dedi.


​Dedi Ritonga secara tegas meminta Executive General Manager (GM) PT Pertamina di Sumatera Utara (Sumut), Freddy Anwar, untuk mundur dari jabatannya karena dinilai tidak mampu memimpin dan menangani permasalahan yang ada di masyarakat.


​Lebih lanjut, Sekretaris PKC PMII tersebut juga mendesak Kementerian BUMN agar segera mencopot Freddy Anwar jika Pertamina terbukti lambat dalam penanganan krisis ini sebagaimana fakta di lapangan yang sudah terjadi.


Dedi Ritonga juga menekankan bahwa kesulitan pasokan BBM ini sangat memukul sektor ekonomi, logistik, dan aktivitas harian masyarakat, yang tercermin dari antrean panjang di SPBU.


​Dedi juga menyoroti adanya perbedaan kecepatan respons penanganan yang dirasakan antara wilayah Sumatera, khususnya Sumut, dengan sentra-sentra di Pulau Jawa.


​"Mirisnya, Sumatera Utara bukan Pulau Jawa. Kenyataan ini sering kali menyebabkan banyak hal (masalah) yang terjadi dan penanganannya tidak secepat atau seefektif di pusat.


​"Tunjukkan bahwa Pertamina serius melayani seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali," tutup Dedi Ritonga.(tim)


Posting Komentar

0 Komentar